|
JAYAPURA – Di Kompetisi Liga Soeratin U-18 memperebutkan Kapolda Papua Cup tahun 2010, Persinab U-18 mampu menahan ambisi salah satu tim kuat di grup B, Persipuja Puncak Jaya. Pertandingan yang berlangsung di lapangan Brimobda Kotaraja, Selasa (27/7) sore kemarin, John Kook Mahuze dkk menguasai jalannya pertandingan sejak menit awal.
Terbukti ketika memasuki menit ketiga, anak-anak Nabire unggul lebih dulu melalui gelandang serang, Alfred Lorenz Wanggai memanfaatkan assit dari striker Yustinus Pelipus Yeimo. Unggul 1-0 membuat anak-anak semakin meningkatkan serangan. Bola-bola pendek yang diperagakan Alfons Heru Gobai dan Edison Maitindom dari barisan tengah kerap merepotkan pemain lawan. Hanya penyelesaian kurang maksimal. Sebaliknya, anak-anak Puncak Jaya terus membangun serangan untuk mengejar ketertinggalannya. Namun selalu dipatahkan trio benteng Persinab: Nomensen Douw, John Kook Mahuze dan Yohanes Wakur. Keberuntungan bagi Persipuja tiba pada menit ke 23 setelah bola mengenai tangan seorang pemain Persinab, Alfred Lorenz Wanggai. Diketahui handball, wasit Ahmad Tuharea yang memimpin pertandingan menunjuk titik putih. Pemain Persipuja bernomor punggung 6 yang dipercayakan mengeksekusi pinalti mampu memanfaatkan peluang menyamai kedudukan. Skor 1-1 bertahan hingga babak pertama berakhir. Di babak kedua, kedua tim masih bermain dengan tempo tinggi, saling serang dan berusaha menambah pundi-pundi gol. Setidaknya beberapa peluang tercipta untuk mencetak gol, misalnya bagi pemain Persipuja pada menit ke 58, namun kesigapan kiper Demianus Piter Baab mampu mengamankan gawang dengan baik. Begitupun beberapa tendangan dari penyerang Persipuja, masih dapat diantisipasi kiper dan pemain belakang Persinab. Peluang juga didapat Persinab. Hanya saja, kepemimpinan wasit tidak fair. Terkesan berat sebelah. Ini terbukti saat penyerang Persinab mendapat peluang, wasit selalu meniup peluit, meski bukan offside. Puncaknya, tendangan keras terukur yang dilesakan Alfred Lorenz Wanggai ke gawang Persipuja pada menit 88 babak kedua, dianulir wasit. Penonton yang berdiri di sisi kiri gawang Persipuja sontak meneriaki wasit karena keputusannya tidak obyektif dan dianggap berat sebelah. “Kita sudah menang, tapi wasit anulir gol kedua. Seharusnya wasit berkoordinasi dengan hakim garis, karena tadi tidak ada pemain yang offside,” ujar Pelatih Kepala Persinab U-18, Abian Pekei kepada wartawan usai pertandingan. Kepemimpinan wasit sore kemarin, sangat disesalkan. “Wasit berdiri jauh di belakang pemain, bagaimana mungkin dia lihat ada pemain kami offside, sedangkan hakim garis saja tidak angkat bendera,” kata Abian bernada kecewa. Tidak hanya itu, menurut Abian Pekei, beberapa kali pemain Persinab tidak melakukan pelanggaran, tetapi wasit meniup peluit. Hal ini sudah menunjukan bahwa wasit berat sebelah, dan diduga ada mafia dalam pertandingan kali ini. “Banyak kali kami dirugikan, karena tadi adik-adik tidak salah, tapi wasit langsng semprit. Giliran pemain Persipuja melakukan pelanggaran, wasit malah membiarkan bola terus dilanjutkan,” ungkap Abian. Sekretaris Umum Pengprov Papua, M. Usman Fakaubun yang menyaksikan jalannya pertandingan kemarin sore, sesaat peluit panjang langsung mendatangi benc Persinab menyalami pelatih dan official. Usman agaknya telah memaklumi kekecewaan terhadap kepemimpinan wasit. Menurutnya, tim Persinab harus bisa menerima hasil pertandingan ini. Berbagai tudingan pun mengemuka menyusul kepemimpinan wasit yang jelas-jelas membela Persipuja Puncak Jaya. Isu suap beredar kencang, apalagi wasit yang memimpin pertandingan kemarin sore ini pernah beberapa hari sebelumnya mengaku jika panitia tidak mengatur akomodasi bagi korps pengadil lapangan hijau, sehingga terpaksa melakukan pendekatan dengan manajemen klub peserta Kompetisi U-18 ini. Mafia dalam sepakbola bukan hal baru. Cuma sayangnya, ini terjadi dalam ajang pembinaan pemain muda. Sangat disayangkan jika kompetisi ini diracuni dengan suap menyuap. Kalau di kompetisi yang lebih tinggi seperti Divisi I, Divisi Utama atau Liga Super Indonesia, tidak mengapa, karena memang sudah biasa terjadi. Dengan hasil imbang ini, persaingan di grup B semakin ketat. Minus Persigubin Pegunungan Bintang yang telah mengalami dua kali kekalahan, Persinab Nabire dan Persipuja Puncak Jaya serta dua tim lainnya, Persindug Nduga dan Persemi Mimika masih memiliki peluang yang sama untuk tembus ke babak final alias juara grup. (you)
 |