|
NABIRE - Sejumlah warga mempertanyakan proyek normalisasi dan pemasangan bronjong Kali Wanggar yang jebol akibat dilanda banjir beberapa bulan lalu. Sebagian warga menilai bahwa bila proyek tersebut tidak segera terealisasi maka bukan hal yang mustahil warga masyarakat yang tinggal disepanjang dan sekitar kali tersebut akan kembali menerima akibat bila hujan kembali datang.
Normalisasi yang diharapkan mampu menetralisir jalannya air dan pemasangan bronjong dapat mencegah longsor daerah sekitar justru kembali menjadi sebuah beban bagi masyarakat sekitar. Sementara sebagian warga yang lain mempertanyakan keberadaan proyek besar tersebut dari segi aturan. Menurut sebagian dari mereka proses lelang atau tender normalisasi dan pemasangan bronjong Kali Wanggar telah menyalahi aturan seperti yang termuat dalam Kepres Nomor 80 Tahun 2003. Tender yang dilaksanakan terkesan hanya sekedar formalitas, proses lelang terkesan dibuat-buat yang padahal merupakan penunjukkan. Dalam pekerjaannya pun proyek tersebut sempat tersendat, kemajuan pekerjaan proyek juga terkesan lamban dan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Bahkan menurut informasi pihak pengusaha atau kontraktor telah diberikan surat teguran karena pekerjaan proyek tersebut seringkali lewat batas waktu yang ditentukan. Kini proyek yang dibilang semi raksasa untuk ukuran Kabupaten Nabire belum ada kejelasannya. Banjir yang meluluhlantahkan proyek tersebut telah mengakibatkan kerugian material yang tidak sedikit. Lalu pertanyaannya tanggung jawab siapa penyelesaian proyek tersebut. Sebagain masyarakat meminta agar pihak-pihak yang terkait dapat memperhatikan dengan serius terkait jebolnya proyek tersebut. Sebagian masyarakat ada yang menilai bahwa jebolnya proyek kususnya pemasangan bornjong yang jebol karena terseret banjir besar bukan salah kontraktor tetapi merupakan musibah alam yang tidak bisa dihindari. “Kita tidak bisa salahkan kontraktor begitu saja, siapapun tentunya tidak ingin hal itu terjadi, tetapi ini karena sebuah musibah, banjir besar yang melanda proyek tersebut yang mengakibatkan jebol bukan salah yang menggarap. Siapa sih yang menyangka akan adanya musibah seperti itu,” tuturnya. Sebagian masyarakat menilai bahwa pekerjaan proyek tersebut banyak yang keliru sehingga dengan mudah dapat disapu oleh air termasuk banjir. Katanya, seharusnya kontraktor tersebut dapat memperkirakan akibat apa saja yang akan terjadi termasuk adanya air besar karena banjir, pemasangan bronjong diharapkan dapat mencegah erosi di daerah sekitar namun yang terjadi justru malah hancur dihantam air. Sebagian warga lainnya menyatakan bahwa terkait hal itu diserahkan saja kepada pihak yang berwenang bagaimana menyelesaikannya yang pada muaranya masyarakat tidak lagi menanggung derita akibat banjir. Katanya, bila dalam proyek tersebut memang ada peyimpangan serahkan saja kepada pihak kepolisian untuk mengusutnya. “Semua itu harus dibuktikan dahulu apakah ada yang salah dalam proyek tersebut. Apakah benar bahwa dari awal prosesnya tidak benar, apakah benar sesuai aturan lelang atau penunjukkan, apakah dana yang telah dikucurkan sesuai dengan kemajuan pekerjaan, apakah jebolnya proyek tersebut akibat pekerjaan yang tidak sesuai ataukah murni karena bencana alam berupa banjir.Kita serahkan kepada pihak berwajib untuk menyelidikinya dan mengusutnya hingga tuntas,” terangnya. Sebagian warga ada yang menyatakan dukungan kepada pihak kepolisian untuk dapat menuntaskan kasus tersebut. “Kami setuju dan memberi dukungan penuh terhadap pihak kepolisian resort (Polres) Nabire yang sedang melakukan penyelidikan kasus ini. Kami berharap pihak kepolisian bertindak serius dalam menangani kasus ini, semoga semuanya dapat segera terungkap kebenarannya,” harap mereka. (iing elsa)
 |